Sabtu, 03 September 2016

Cerita pendek bersambung


Untuk perhatian, ide dan seluruh isi cerita ini asli buatan saya. Jadi tolong hargai hak cipta karya saya. Terimakasih atas perhatiannya dan selamat membaca >.<

Budaya Bersyair


Sang surya belum juga menampakan dirinya. Ia masih lelap tertidur di tempatnya. Membiarkan sang rembulan menguasia malam. Ditemani ratusan manik-manik berkelap-kelip bertaburan di atas sutera hitam. Sunyi dan dingin menyambut kelahiran hari baru. Aku menyandarkan tubuhku pada sebuah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Di ruangan sunyi ini aku berperang melawan diriku sendiri. Tak ingin kalah melawan nafsu. Aku mencoba memenangkan salah satunya. Terjaga melihat kenyataan atau tenggelam dalam mimpi.
Suara perintah mulai terdengar dari surau-surau masjid, menggema, saling bersahutan. Menyadarkan diri dari indahnya alam mimpi kembali mengingat Tuhan. Sebuah suara derap langkah mendekat. Membuatku semakin terjaga, mewas-was diri dalam keadaan ini. Bagai seekor rusa dengan nyawanya berada di ujung tanduk. Sesosok wanita muncul di ambang pintu, berjalan semakin mendekat. Aku menghembuskan nafas legaku. Kembali merasa tenang dengan kedatangannya. Untunglah yang datang itu adalah wanita yang menjadi bibiku. Bukan wanita dengan baju putih panjangnya dan rambut hitam yang terurai.
            ‘Jetrek’, suara itu terdengar ketika Bibi memtikan kompor. Tangannya membuka tutup panci lalu keluarlah asap membumbung tinggi. Wanita itu membalikan tubuhnya berhadapan denganku. Kedua mata coklatnya menatapku yang masih bersandar pada dinding. Dia membuka mulutnya lalu keluarlah kata seruan dari dalam sana.
            “Aqilla, ayo cepat mandi! Setelah itu shalat shubuh berjamaah.”
Mataku melirik ke arah jam yang tergantung di dinding tepat di atas pintu. Jarum jamnya menunjukan pukul lima kurang sepuluh menit. Aku bergidik dan pikiranku melayang. Mencoba membayangkan bagaimana rasanya mandi sepagi ini. Dingin atau mungkin sangat dingin, itu pasti yang akan aku rasakan nanti.
            “Bibi buatkan Aqilla air hangat ya untuk mandi. Inikan masih pagi, pasti airnya sangat dingin. Aqilla tidak biasa mandi dengan air dingin.” ucapku mencoba memelas belas kasihan.
Lawan bicaraku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali terdengar gumaman tidak jelas dari mulutnya. Entah itu sebuah gumaman atau dia hanya berdeham.
            “Aqilla kamu jangan terlalu manja. Kamu ini sudah besar, biasakan diri kamu mandi pakai air dingin. Jangan selalu harus pakai air hangat. Ayo cepat kamu mandi! Nenekmu sudah menunggu di ruang shalat” ucapnya mencoba tegas.
Aku mendengus kesal. Aku membenci kalimat-kalimat panjang seperti kereta api itu masuk ke saluran telingaku. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa membantah atau bahkan melawannya. Kalau aku melakukan hal itu, sudah pasti kalimat-kalimat itu semakin panjang keluar dari saluran faringnya masuk memukul gendang telingaku. Yang bisa aku perbuat hanya diam. Bahkan mulut ini sudah tak bisa membela pemiliknya.
Aku mengambil handukku. Berjalan gontai menuju ruangan berisi bak yang dipenuhi air. Membuka pintunya malas, lalu menutup dan tak lupa menguncinya.
“HUAA!!! Airnya dingin sekali.” jeritku tak tertahan dari dalam kamar mandi.
Setengah jam sudah berlalu. Tak ada lagi bak terkutuk, tak ada lagi lantai kesialan, dan tak ada lagi air kematian. Kini hanya ada selimut tebal nan hangat yang menggulung tubuhku. Merasa bernostalgia, kembali menjadi bayi yang merasakan hangatnya dibedong. Tapi rasa dingin ini masih belum hilang menusuk kulit. Aku tak ingin membeku menjadi patung es seperti Anna difilm ‘FROZEN’. Rasa dingin ini seperti berada di Eropa saat musim dingin. Suhunya yang berada belasan di bawah nol derajat membuat semuanya menjadi dingin. Dingin yang sama seperti yang aku rasakan saat ini.
Apa aku sudah meperkenalkan diriku? Pasti belum. Baiklah namaku Aqilla Samady. Saat ini aku tinggal bersama nenek, paman, bibi, dan sepupu laki-lakiku, Raka. Aku bukanlah seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orangtuaku lalu dititipkan kepada nenekku. Sebenarnya orang tuaku masih hidup dan mereka dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun.  Kedua orang tuaku adalah pengusaha bisnis yang sukses. Kini usaha mereka sudah menggurita. Bukan kawan. Orang tauku tidak berbisnis gurita, maksudku adalah usaha bisnis mereka sudah memiliki banyak cabang dan sukses. Aktifitas rutin mereka adalah berangkat bekerja saat pagi masih buta dan kembali ke rumah larut malam. Begitulah, mereka sangat setia kepada pekerjaan mereka. Seperti bumi yang setia mengitari matahari selama berabad-abad lamanya.
Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai ide ayahku untuk menyuruhku tinggal bersama nenekku. Menghabiskan waktu liburan selama seminggu di kota kecil yang terkenal dengan hasil nanasnya pastilah tak begitu menyenangkan. Hanya butuh waktu dua jam untuk menempuh perjalanan menuju kota kecil di daerah Pantura ini dari tempat tinggalku kota Metropolitan. Di sini aku seperti korban pengungsian yang jauh dari harapan liburan. Bukan bencana banjir, longsor, gempa bumi, atau gunung meletus yang menimpaku. Tapi bencana kesibukan orangtua, dan aku harap tak ada Aqilla-Aqilla di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti yang aku alami sekarang.
Sudah tiga hari aku berada di rumah nenekku. Selama itu juga tak ada kegiatan apapun yang aku lakukan selain terus menerus mengekori ke manapun Bibi pergi. Apapun yang dilakukan Bibi aku harus ikut membantunya. Di sini aku merasa seperti dikarantina menjadi calon istri yang baik. Calon istri idaman yang pandai memasak, bisa memcuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Aku tidak suka melakukan pekerjaan itu. Jujur saja, cita-citaku terlalu rendah jika hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Jika kalian ingin tahu, aku sangat ingin menjadi seperti ibuku. Menjadi seorang wanita karir  yang setiap hari bergelut dengan tumpukan kertas-kertas di atas meja. Bekerja di gedung tinggi dan pongah dan bergaul dengan para pengusaha yang kadang menikmati hasil kerja karyawannya sendiri. Bukan menjadi ibu rumah tangga yang setiap harinya bekerja di rumah dan bercengkrama dengan panci, katel, dan clemek.
Lelah, itulah yang aku rasakan saat ini. Panas teriknya matahari membakar kulit. Matahari yang bulat sempurna sedang merangkak naik ke tempat singgasana agungnya.  Aku menghamburkan tubuhku  di atas kursi. Kulirik jam yang selalu setia menggantung pada dinding anyaman bambu itu. Aku membuang nafas berat. Bukan satu atau dua kali aku melirik kea rah jam itu. Tetap tak ada perubahan yang terjadi. Jarum jam itu sedari tadi berhenti tepat diangka sebelas. Begitu setianya jarum jam pada angka sebelas, sampai-sampai tak ingin berpindah ke angka lain.
            “Aqilla, kamu sedang apa?.”
Sebuah suara yang tak asing tertangkap oleh daun telingaku. Suara yang lembut tanpa ada bentakan disetiap katanya. Tetapi begitu terasa mengganggu hati dan perasaanku. Baru lima menit aku merasakan kedamaian, sekarang sudah ada yang menggangguku. Tak adakah yang bisa mengerti kalau aku ini butuh istirahat. Apa lagi yang diinginkan wanita ini?
“Eh Bibi. Aqilla sedang istirahat . Ada apa Bi? Bibi akan menyuruh Aqilla mencuci piring lagi?” tanyaku to the point.
“Jangan ya Bi. Aqilla mohon jangan suruh Aqilla mencuci piring lagi. Lihat, tangan Aqilla jadi merah dan keriput seperti nenek sihir. Aqilla tidak terbiasa mencuci piring, Bi.” ucapku memelas sambil memamerkan kedua tanganku yang terlihat menyedihkan.
“Aqilla kamu ini terlalu dimanjakan oleh orang tua kamu. Baru mencuci sepuluh piring saja kamu sudah mengeluh. Kamu ini kan perempuan. Sudah kewajiban kamu bisa mencuci, masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah.”
Bla.. Bla.. Bla.., ya teruslah ceramah aku tak akan mendengarkannya. Aku lelah, sudah cukup aku rasa aku ingin pulang sekarang juga. Tapi tunggu, itu tidak mungkin, bodoh. Kalau aku pulang, giliran ayahku yang menceramahiku. Sepertinya memang bibiku ini sangat senang aku ada di sini. Itu artinya ada orang yang membantunya mengerjakan semua pekerjaannya. Tentu saja dia memanfaatkanku, karena aku ini seorang perempuan. Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?. Dia tidak mungkin menyuruh anak laki-lakinya untuk mengurus rumah. Semua pekerjaan rumah bukanlah tugas untuk anak laki-laki. Sial, kenapa aku harus menjadi perempuan?
“Aqilla, kamu melamun?” pertanyaan penuh selidik itu terlontar dari mulut wanita itu.
Kedua matanya menatapku tajam. Apa Bibi marah? Aku mencoba menatap kedua matanya. Kutepis semua rasa ragu dan takut.
“Tidak kok Bi. Aqilla mendengarkan Bibi.” ucapku mencoba meyakinkan.
“Bibi tidak akan menyuruh kamu mencuci piring. Tadi Raka mencari kamu. Sekarang dia ada di teras depan rumah cepat kamu temui dia.”
Kenapa Raka mencariku? Entahlah. Aku langsung pergi menuju teras depan rumah. Aku berhenti di ambang pintu. Benar yang dikatakan Bibi, Raka ada di teras. Ia sedang duduk membelakangiku. Melihatnya saat ini mengingatkanku kepada seorang bocah penggemar maniak coklat. Ingatanku kembali ke masa Sembilan tahun yang lalu.
Seorang anak laki-laki sedang memakan cokat batangang yang berada ditangannya dengan rakus. Mulutnya belepotan dan bajunya dipenuhi noda dari coklat yang ia makan. Ibunya terus saja memarahinya untuk berhenti memakan coklat tapi ia tak menggubrisnya. Beberapa hari kemudian, anak laki-laki itu terus menangis sambil memegangi pipinya. Mengeluhkan sakit dipipinya. Lalu ayahnya mengajaknya ke suatu tempat. Saat ia kembali dua giginya sudah diambil oleh peri gigi.
Raka masih belum menyadari kalau aku ada dibelakangnya. Aku tertawa kecil mengingat kejadian itu. Terasa sangat lucu jika kembali lagi menjadi anak kecil. Penuh canda tawa dan kebahagiaan. Kembali mengingat masa lalu, terasa semakin lucu. Suara tawaku semakin tak tertahan dari mulutku ketika teringat sebuah kenyataan bahwa anak laki-laki penggemar colat itu adalah Raka.
“Hei Aqilla, sedang apa di situ? Ayo duduk di sini.” ucap Raka sambil menepuk-nepuk lantai di sampingnya memberi isyarat agar aku duduk di sana.
Aku mengambil tempat untuk duduk di samping Raka. Satu detik, lima detik, sampai sepuluh detik taka da bunyi yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya sunyi dan hembusan angina yang menemani kami berdua. Lalu Raka memulai membuka suara mencoba mencairkan suasana.
“Besok akan ada pentas seni. Aku berniat mengajak kamu nonton pentas seni itu. Menurut kamu bagaimana?” ucap Raka basa-basi.
“Kamu mengajaku menonton pentas seni?” ucapku mengulangi perkataannya dengan nada bertanya.
Raka menganggukan kepalanya. Aku berpikir sejenak untuk menetukan keputusanku. Haruskah aku menerima ajakan Raka? Tapi ini kesempatanku untuk mendapatkan hiburan di kota kecil yang terkenal dengan kesenian gotong singanya.
“Boleh.” ucapku singkat dan padat.
“Bagus. Jadi besok jam delapan kamu harus sudah siap ya. Oh ya ada yang mau kamu tanyakan?”
“Tanya tentang apa?” ucapku bingung.
“Tentang pentas seni itu mungkin.”
Aku berdeham untuk berpikir sesaat.
“Oh ya, aku ingin tanya, nanti ada band apa yang akan tampil di sana? Terus bagaimana dengan musiknya, apa genrenya jazz, hip hop, atau rock? Pentas seni di sekolahku kemarin ada penampilan dari modern dance, apa nanti juga ada?"
Raka hanya diam sambil menatapku. Tatapannya aneh, tak bisa aku artikan. Beberapa saat dia hanya menatapku. Apa tadi aku salah bicara? Aku rasa taka da sepatah katapun yang salah keluar dari mulutku. Mungkinkah Raka kerasukan arwah di siang bolong seperti ini? Aku balik menatapnya dengan penuh keraguan. Dia merubah ekspresi wajahnya lalu suara tawa yang sangat keras dan nyaring keluar dari rongga mulutnya. Aku spontan menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku tak ingin gendang telingaku robek oleh suara yang bisa membelah langit seperti suara tawa Raka.
“Raka, kamu kenapa tertawa?” ucapku dengan suara sedikit berteriak berusaha menandingi suara tawa Raka.
“Hahaha… Kamu yang lucu.” ucapnya tak sambil tertawa.
Raka menarik nafas lalu mengeluarkannya panjang. Ia mencoba menahan tawanya agar tak keluar lagi. Aku melihat cairan bening keluar dari sudut matanya. Selucu itukah hal yang membuatnya tertawa?. Tunggu, tadi dia bilang aku yang lucu. Dia mengejekku dengan cara mentertawakanku. Dia sangat menyebalkan. Aku mulai muak dengannya.
“Aqilla kamu salah paham.” ucapnya mencoba serius.
“Salah paham tentang apa?” ucapku kesal.
“Oke aku minta maaf sudah mentertawakan kamu. Habisnya kamu sendiri yang membuat aku mentertawakan kamu. Kamu salah paham tentang pentas seni itu. Maksudku, aku mengajak kamu menonton pentas seni tradisional jadi di sana tiadak akan ada band, musik jazz atau rock, apalagi penampilan modern dance. Yang ada di sana itu penampilan musik angklung, karawitan, kawih dan pupuh. Lalu ada juga penampilan tarian tradisional dari Jawa Barat seperti Tari Merak, Tarian Jaipong, dan Tari Topeng. Aku yakin seratus persen kamu akan jatuh cinta sama syair-syair budaya itu. Aku jamin, percaya lah kepadaku.”

Pagi hari tepat pukul delapan, aku dan Raka sudah siap untuk berangkat menuju bale desa tempat diadakan pentas seni itu. Keraguan menyelimuti hatiku. Hati dan pikiranku berkecamuk. Haruskah aku ikut atau membatalkan semuanya?. Ini pertama kalinya aku melihat secara langsung pertunjukan seni tradisional. Bagaimana kalau nanti aku tak menyukainya. Semua perkataan dan keyakinan Raka pada kenyataannya adalah salah. 




Bersambung...

2 komentar:

  1. How to enter the casino without registration - DRMCD
    Step 강릉 출장마사지 1: Open a player's profile on their 서울특별 출장샵 mobile device and sign up with them and log into the casino · · · · · · · · · · · · · · 하남 출장마사지 · 서산 출장마사지 · · 동해 출장안마 · · · · · · · · · · ·. · ·.

    BalasHapus