Untuk perhatian, ide dan seluruh isi cerita ini asli buatan saya. Jadi tolong hargai hak cipta karya saya. Terimakasih atas perhatiannya dan selamat membaca >.<
Budaya
Bersyair
Sang
surya belum juga menampakan dirinya. Ia masih lelap tertidur di tempatnya.
Membiarkan sang rembulan menguasia malam. Ditemani ratusan manik-manik
berkelap-kelip bertaburan di atas sutera hitam. Sunyi dan dingin menyambut
kelahiran hari baru. Aku menyandarkan tubuhku pada sebuah dinding yang terbuat
dari anyaman bambu. Di ruangan sunyi ini aku berperang melawan diriku sendiri.
Tak ingin kalah melawan nafsu. Aku mencoba memenangkan salah satunya. Terjaga
melihat kenyataan atau tenggelam dalam mimpi.
Suara
perintah mulai terdengar dari surau-surau masjid, menggema, saling bersahutan.
Menyadarkan diri dari indahnya alam mimpi kembali mengingat Tuhan. Sebuah suara
derap langkah mendekat. Membuatku semakin terjaga, mewas-was diri dalam keadaan
ini. Bagai seekor rusa dengan nyawanya berada di ujung tanduk. Sesosok wanita
muncul di ambang pintu, berjalan semakin mendekat. Aku menghembuskan nafas
legaku. Kembali merasa tenang dengan kedatangannya. Untunglah yang datang itu
adalah wanita yang menjadi bibiku. Bukan wanita dengan baju putih panjangnya
dan rambut hitam yang terurai.
‘Jetrek’, suara itu terdengar ketika
Bibi memtikan kompor. Tangannya membuka tutup panci lalu keluarlah asap
membumbung tinggi. Wanita itu membalikan tubuhnya berhadapan denganku. Kedua
mata coklatnya menatapku yang masih bersandar pada dinding. Dia membuka
mulutnya lalu keluarlah kata seruan dari dalam sana.
“Aqilla, ayo cepat mandi! Setelah
itu shalat shubuh berjamaah.”
Mataku
melirik ke arah jam yang tergantung di dinding tepat di atas pintu. Jarum
jamnya menunjukan pukul lima kurang sepuluh menit. Aku bergidik dan pikiranku
melayang. Mencoba membayangkan bagaimana rasanya mandi sepagi ini. Dingin atau
mungkin sangat dingin, itu pasti yang akan aku rasakan nanti.
“Bibi buatkan Aqilla air hangat ya untuk mandi. Inikan masih pagi, pasti airnya sangat dingin. Aqilla tidak biasa
mandi dengan air dingin.” ucapku mencoba memelas belas kasihan.
Lawan
bicaraku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali terdengar gumaman tidak
jelas dari mulutnya. Entah itu sebuah gumaman atau dia hanya berdeham.
“Aqilla kamu jangan terlalu manja.
Kamu ini sudah besar, biasakan diri kamu mandi pakai air dingin. Jangan selalu
harus pakai air hangat. Ayo cepat kamu mandi! Nenekmu sudah menunggu di ruang
shalat” ucapnya mencoba tegas.
Aku
mendengus kesal. Aku membenci kalimat-kalimat panjang seperti kereta api itu
masuk ke saluran telingaku. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa membantah atau
bahkan melawannya. Kalau aku melakukan hal itu, sudah pasti kalimat-kalimat itu
semakin panjang keluar dari saluran faringnya masuk memukul gendang telingaku.
Yang bisa aku perbuat hanya diam. Bahkan mulut ini sudah tak bisa membela
pemiliknya.
Aku
mengambil handukku. Berjalan gontai menuju ruangan berisi bak yang dipenuhi
air. Membuka pintunya malas, lalu menutup dan tak lupa menguncinya.
“HUAA!!! Airnya dingin
sekali.” jeritku tak tertahan dari dalam kamar mandi.
Setengah
jam sudah berlalu. Tak ada lagi bak terkutuk, tak ada lagi lantai kesialan, dan
tak ada lagi air kematian. Kini hanya ada selimut tebal nan hangat yang
menggulung tubuhku. Merasa bernostalgia, kembali menjadi bayi yang merasakan
hangatnya dibedong. Tapi rasa dingin ini masih belum hilang menusuk kulit. Aku
tak ingin membeku menjadi patung es seperti Anna difilm ‘FROZEN’. Rasa dingin
ini seperti berada di Eropa saat musim dingin. Suhunya yang berada belasan di
bawah nol derajat membuat semuanya menjadi dingin. Dingin yang sama seperti
yang aku rasakan saat ini.
Apa
aku sudah meperkenalkan diriku? Pasti belum. Baiklah namaku Aqilla Samady. Saat
ini aku tinggal bersama nenek, paman, bibi, dan sepupu laki-lakiku, Raka. Aku
bukanlah seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orangtuaku lalu
dititipkan kepada nenekku. Sebenarnya orang tuaku masih hidup dan mereka dalam
keadaan sehat tanpa kurang satu apapun.
Kedua orang tuaku adalah pengusaha bisnis yang sukses. Kini usaha mereka
sudah menggurita. Bukan kawan. Orang tauku tidak berbisnis gurita, maksudku adalah
usaha bisnis mereka sudah memiliki banyak cabang dan sukses. Aktifitas rutin
mereka adalah berangkat bekerja saat pagi masih buta dan kembali ke rumah larut
malam. Begitulah, mereka sangat setia kepada pekerjaan mereka. Seperti bumi
yang setia mengitari matahari selama berabad-abad lamanya.
Sebenarnya
aku tidak terlalu menyukai ide ayahku untuk menyuruhku tinggal bersama nenekku.
Menghabiskan waktu liburan selama seminggu di kota kecil yang terkenal dengan
hasil nanasnya pastilah tak begitu menyenangkan. Hanya butuh waktu dua jam
untuk menempuh perjalanan menuju kota kecil di daerah Pantura ini dari tempat
tinggalku kota Metropolitan. Di sini aku seperti korban pengungsian yang jauh
dari harapan liburan. Bukan bencana banjir, longsor, gempa bumi, atau gunung
meletus yang menimpaku. Tapi bencana kesibukan orangtua, dan aku harap tak ada
Aqilla-Aqilla di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti yang aku alami
sekarang.
Sudah
tiga hari aku berada di rumah nenekku. Selama itu juga tak ada kegiatan apapun
yang aku lakukan selain terus menerus mengekori ke manapun Bibi pergi. Apapun
yang dilakukan Bibi aku harus ikut membantunya. Di sini aku merasa seperti
dikarantina menjadi calon istri yang baik. Calon istri idaman yang pandai
memasak, bisa memcuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Aku tidak suka
melakukan pekerjaan itu. Jujur saja, cita-citaku terlalu rendah jika hanya
menjadi seorang ibu rumah tangga. Jika kalian ingin tahu, aku sangat ingin
menjadi seperti ibuku. Menjadi seorang wanita karir yang setiap hari bergelut dengan tumpukan
kertas-kertas di atas meja. Bekerja di gedung tinggi dan pongah dan bergaul
dengan para pengusaha yang kadang menikmati hasil kerja karyawannya sendiri.
Bukan menjadi ibu rumah tangga yang setiap harinya bekerja di rumah dan
bercengkrama dengan panci, katel, dan clemek.
Lelah,
itulah yang aku rasakan saat ini. Panas teriknya matahari membakar kulit.
Matahari yang bulat sempurna sedang merangkak naik ke tempat singgasana
agungnya. Aku menghamburkan tubuhku di atas kursi. Kulirik jam yang selalu setia
menggantung pada dinding anyaman bambu itu. Aku membuang nafas berat. Bukan
satu atau dua kali aku melirik kea rah jam itu. Tetap tak ada perubahan yang
terjadi. Jarum jam itu sedari tadi berhenti tepat diangka sebelas. Begitu
setianya jarum jam pada angka sebelas, sampai-sampai tak ingin berpindah ke
angka lain.
“Aqilla, kamu sedang apa?.”
Sebuah
suara yang tak asing tertangkap oleh daun telingaku. Suara yang lembut tanpa
ada bentakan disetiap katanya. Tetapi begitu terasa mengganggu hati dan
perasaanku. Baru lima menit aku merasakan kedamaian, sekarang sudah ada yang
menggangguku. Tak adakah yang bisa mengerti kalau aku ini butuh istirahat. Apa
lagi yang diinginkan wanita ini?
“Eh
Bibi. Aqilla sedang istirahat . Ada apa Bi? Bibi akan menyuruh Aqilla mencuci
piring lagi?” tanyaku to the point.
“Jangan
ya Bi. Aqilla mohon jangan suruh Aqilla mencuci piring lagi. Lihat, tangan
Aqilla jadi merah dan keriput seperti nenek sihir. Aqilla tidak terbiasa mencuci piring,
Bi.” ucapku memelas sambil memamerkan kedua tanganku yang terlihat menyedihkan.
“Aqilla
kamu ini terlalu dimanjakan oleh orang tua kamu. Baru mencuci sepuluh piring saja kamu sudah mengeluh. Kamu ini kan perempuan. Sudah kewajiban kamu bisa mencuci,
masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah.”
Bla..
Bla.. Bla.., ya teruslah ceramah aku tak akan mendengarkannya. Aku lelah, sudah
cukup aku rasa aku ingin pulang sekarang juga. Tapi tunggu, itu tidak mungkin,
bodoh. Kalau aku pulang, giliran ayahku yang menceramahiku. Sepertinya memang
bibiku ini sangat senang aku ada di sini. Itu artinya ada orang yang
membantunya mengerjakan semua pekerjaannya. Tentu saja dia memanfaatkanku,
karena aku ini seorang perempuan. Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?.
Dia tidak mungkin menyuruh anak laki-lakinya untuk mengurus rumah. Semua
pekerjaan rumah bukanlah tugas untuk anak laki-laki. Sial, kenapa aku harus
menjadi perempuan?
“Aqilla,
kamu melamun?” pertanyaan penuh selidik itu terlontar dari mulut wanita itu.
Kedua
matanya menatapku tajam. Apa Bibi marah? Aku mencoba menatap kedua matanya.
Kutepis semua rasa ragu dan takut.
“Tidak kok Bi. Aqilla mendengarkan Bibi.” ucapku mencoba meyakinkan.
“Bibi tidak akan menyuruh kamu mencuci piring. Tadi Raka mencari kamu. Sekarang dia ada
di teras depan rumah cepat kamu temui dia.”
Kenapa Raka mencariku? Entahlah. Aku langsung pergi menuju teras depan
rumah. Aku berhenti di ambang pintu. Benar yang dikatakan Bibi, Raka ada di
teras. Ia sedang duduk membelakangiku. Melihatnya saat ini mengingatkanku
kepada seorang bocah penggemar maniak coklat. Ingatanku kembali ke masa
Sembilan tahun yang lalu.
Seorang
anak laki-laki sedang memakan cokat batangang yang berada ditangannya dengan
rakus. Mulutnya belepotan dan bajunya dipenuhi noda dari coklat yang ia makan.
Ibunya terus saja memarahinya untuk berhenti memakan coklat tapi ia tak
menggubrisnya. Beberapa hari kemudian, anak laki-laki itu terus menangis sambil
memegangi pipinya. Mengeluhkan sakit dipipinya. Lalu ayahnya mengajaknya ke
suatu tempat. Saat ia kembali dua giginya sudah diambil oleh peri gigi.
Raka
masih belum menyadari kalau aku ada dibelakangnya. Aku tertawa kecil mengingat
kejadian itu. Terasa sangat lucu jika kembali lagi menjadi anak kecil. Penuh
canda tawa dan kebahagiaan. Kembali mengingat masa lalu, terasa semakin lucu. Suara
tawaku semakin tak tertahan dari mulutku ketika teringat sebuah kenyataan bahwa
anak laki-laki penggemar colat itu adalah Raka.
“Hei
Aqilla, sedang apa di situ? Ayo duduk di sini.” ucap Raka sambil menepuk-nepuk
lantai di sampingnya memberi isyarat agar aku duduk di sana.
Aku
mengambil tempat untuk duduk di samping Raka. Satu detik, lima detik, sampai
sepuluh detik taka da bunyi yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya sunyi dan
hembusan angina yang menemani kami berdua. Lalu Raka memulai membuka suara
mencoba mencairkan suasana.
“Besok
akan ada pentas seni. Aku berniat mengajak kamu nonton pentas seni itu.
Menurut kamu bagaimana?” ucap Raka basa-basi.
“Kamu
mengajaku menonton pentas seni?” ucapku mengulangi perkataannya dengan nada
bertanya.
Raka
menganggukan kepalanya. Aku berpikir sejenak untuk menetukan keputusanku.
Haruskah aku menerima ajakan Raka? Tapi ini kesempatanku untuk mendapatkan
hiburan di kota kecil yang terkenal dengan kesenian gotong singanya.
“Boleh.”
ucapku singkat dan padat.
“Bagus.
Jadi besok jam delapan kamu harus sudah siap ya. Oh ya ada yang mau kamu
tanyakan?”
“Tanya
tentang apa?” ucapku bingung.
“Tentang
pentas seni itu mungkin.”
Aku
berdeham untuk berpikir sesaat.
“Oh
ya, aku ingin tanya, nanti ada band apa yang akan tampil di sana? Terus bagaimana dengan musiknya, apa genrenya jazz, hip hop, atau rock? Pentas seni di sekolahku kemarin ada penampilan dari modern
dance, apa nanti juga ada?"
Raka
hanya diam sambil menatapku. Tatapannya aneh, tak bisa aku artikan. Beberapa
saat dia hanya menatapku. Apa tadi aku salah bicara? Aku rasa taka da sepatah
katapun yang salah keluar dari mulutku. Mungkinkah Raka kerasukan arwah di
siang bolong seperti ini? Aku balik menatapnya dengan penuh keraguan. Dia
merubah ekspresi wajahnya lalu suara tawa yang sangat keras dan nyaring keluar
dari rongga mulutnya. Aku spontan menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku
tak ingin gendang telingaku robek oleh suara yang bisa membelah langit seperti suara
tawa Raka.
“Raka,
kamu kenapa tertawa?” ucapku dengan suara sedikit berteriak berusaha menandingi
suara tawa Raka.
“Hahaha…
Kamu yang lucu.” ucapnya tak sambil tertawa.
Raka
menarik nafas lalu mengeluarkannya panjang. Ia mencoba menahan tawanya agar tak
keluar lagi. Aku melihat cairan bening keluar dari sudut matanya. Selucu itukah
hal yang membuatnya tertawa?. Tunggu, tadi dia bilang aku yang lucu. Dia
mengejekku dengan cara mentertawakanku. Dia sangat menyebalkan. Aku mulai muak
dengannya.
“Aqilla
kamu salah paham.” ucapnya mencoba serius.
“Salah
paham tentang apa?” ucapku kesal.
“Oke
aku minta maaf sudah mentertawakan kamu. Habisnya kamu sendiri yang membuat aku
mentertawakan kamu. Kamu salah paham tentang pentas seni itu. Maksudku, aku mengajak kamu menonton pentas seni tradisional jadi di sana tiadak akan ada band, musik jazz atau rock, apalagi penampilan modern
dance. Yang ada di sana itu penampilan musik angklung, karawitan, kawih dan
pupuh. Lalu ada juga penampilan tarian tradisional dari Jawa Barat seperti Tari
Merak, Tarian Jaipong, dan Tari Topeng. Aku yakin seratus persen kamu akan jatuh
cinta sama syair-syair budaya itu. Aku jamin, percaya lah kepadaku.”
Pagi
hari tepat pukul delapan, aku dan Raka sudah siap untuk berangkat menuju bale
desa tempat diadakan pentas seni itu. Keraguan menyelimuti hatiku. Hati dan
pikiranku berkecamuk. Haruskah aku ikut atau membatalkan semuanya?. Ini pertama
kalinya aku melihat secara langsung pertunjukan seni tradisional. Bagaimana
kalau nanti aku tak menyukainya. Semua perkataan dan keyakinan Raka pada
kenyataannya adalah salah.
Bersambung...
kerennn
BalasHapusHow to enter the casino without registration - DRMCD
BalasHapusStep 강릉 출장마사지 1: Open a player's profile on their 서울특별 출장샵 mobile device and sign up with them and log into the casino · · · · · · · · · · · · · · 하남 출장마사지 · 서산 출장마사지 · · 동해 출장안마 · · · · · · · · · · ·. · ·.