Rabu, 07 September 2016

Fanfiction

BEST LUCK part 2



Main Cast         : Kim Jong Dae a.k.a Chen EXO
                      Yoo Min Rae (OC)
Genre              : Life school, romance



‘Ada apa dengan jantungku? kenapa rasanya sakit. Tapi ini bukan sakit yang mebuatku ingin menangis, ini sakit yang mebuatku selalu tersenyum, selalu terbakar api emosi yang entah dari mana asalnya. Apa yang terjadi?’ ucap Chen membatin.
**
“Kim Songsaengnim datang. Cepat duduk di tempat kalian masing-masing!” teriak salah seorang siswa.

Seisi kelas menjadi ribut, para siswa berlarian menuju tempat masing-masing, begitu juga dengan Chen. Setelah beberapa saat ia terdiam dengan pikirannya yang melayang ia kembali melangkah kan kakinya menuju tempat duduknya.

“Untuk pelajaran seni musik mulai sekarang saya akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok. Dalam satu kelompok terdiri dari dua siswa, satu siswa bertugas menjadi ketua sekaligus pelatih untuk partnernya yang memiliki kekurangan dalam pelajaran ini.” ucap Kim songsaengnim.

Seisi kelas menjadi ribut. Setiap siswa sibuk berbisik-bisik dengan teman di sampingnya. Muncul banyak pertanyaan dari mulut mereka, ‘dengan siapa mereka akan sekelompok’. Itu lah hal yang mereka ributkan.

Saat seisi kelas ribut berbisik-bisik sampai menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan, seorang namja hanya duduk terdiam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namja itu adalah Chen. Dia hanya bergumam tak jelas dan hanya dirinya saja yang dapat mendengar gumamannya.

Chen POV
“Sial! Kenapa aku lupa kalau sekarang pelajaran seni. Harusnya tadi aku pergi saja ke UKS agar bisa membolos pelajaran terkutuk ini. Kau bodoh sekali Chen! Kesempatan untuk membolos sudah di depan mata, tapi kau malah sok alim menolaknya. Rasakan akibatnya.”

Aku hanya bisa bergumam tentang kebodohan yang sudah aku lakukan. Kepalaku terasa sakit lagi. Kenapa mereka sangat berisik? Tidak bisakah mereka menutup mulut mereka yang tidak berguna itu. Aku membenci keributan, teriakan dan semua hal yang menganggu indra pendengaranku.

Aku memang namja yang terkenal di sekolah ini. Menurut banyak orang, aku adalah orang yang sempurna. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang pasti memiliki kekurangan. Aku membenci mereka yang selalu mengatakan bahwa aku memiliki semuanya, mereka bilang kalau aku sempurna. Tapi aku tak pernah membenarkan perkataan mereka. Karena sesempurnanya diriku, aku memiliki kekurangan. Salah satunya, aku sangat buruk dalam pelajaran seni, terutama dalam bernyanyi.

Sejak kecil aku dikenal sebagai murid yang tidak bisa bernyayi. Bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar, aku mendapat nilai C dalam ujian vokalku. Menyanyi adalah kegiatan yang tidak pernah aku sukai. Mungkin untuk sebagian orang bernyanyi adalah hal yang mereka suka. Tapi untukku menyanyi hanyalah untuk mempermalukan diri sendiri.


Author POV
“Diam semuanya! Tolong tenang!” ucap songsaengnim dengan nada tinggi.

Seisi kelas yang tadinya sangat berisik dan ribut dalam seketika menjadi sunyi. Tak satupun ada yang berani mengeluarkan suara.

“Bagus begini lebih baik. Jong Dae kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanya songsaengnim saat melihat Chen hanya diam dan wajahnya sedikit pucat.
“Sa-saya baik-baik saja songsaenim. Saya tidak sakit.” ucap Chen.

“Baiklah kalau begitu kita mulai membagi kelompok. Akan saya sebutkan nama-namanya. Tolong diperhatikan.” …. “Kelompok terakhir Kim Jong Dae dengan Yoo Min Rae. Kalian menjadi satu kelompok silakan bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang terbaik.”

“Untuk pertemuan selanjutnya kalian bekerja secara kelompok dan kita akan menggunakan ruang musik saat melakuakn pembelajaran. Kalian boleh pergi ke ruang musik dan bergabung dengan kelompok kalian. “


CHEN POV
Apa-apan ini? Apa Kim songsaenim tak salah menyebutkan nama atau pendengaranku yang kurang baik. Ah tolong lah siapa pun bangunkan aku dari mimpi yang terlalu indah ini. AKU SEKELOMPOK DENGAN YOO MIN RAE. Rasanya aku ingin sekali berteriak. Kupikir ini bukanlah hari yang sial. Entah mengapa aku selalu percaya bahwa setelah datangnya kesialan, sebuah cahaya keberuntungan selalu mengikuti di belakang. Seperti sebuah bayangan. Namun tidak gelap, justru membawa penerang dalam kehidupan.

Aku tak boleh terus-terusan melamun di kelas. Ini kesempatanku untuk mendekati Min Rae. Ayo Chen kau adalah namja tangguh. Kau tidak mungkin berubah menjadi namja cupu hanya gara-gara berhadapan dengan gadis yang kau sukai.

Aku berjalan menyusuri lorong dan berhenti di ruangan paling ujung—ruang musik. Aku yakin Min Rae sudah ada di dalam karna kulihat tadi di kelas dia sudah tak ada, mungkin dia sedang menugguku. Aku harus cepat, aku tidak boleh membuat seorang putri cantik menunggu ^^

“Di mana dia?” tanyaku pada diri sendiri.

Di sini sangat banyak orang. Aku tak bisa menemukannya. Ya ampun sial, kenapa tadi aku harus melamun dulu di kelas? Mungkin kalau aku lebih cepat sedikit aku sudah menghabiskan waktu berdua dengan calon gadisku itu *Chen kebanyakan ngarep -_-‘

“Jong Dae-ssi!”

Siapa yang memanggil namaku? Aku menengok ke kanan dan ke kiri, tapi aku tak menemukan siapa pun. Kenapa orang itu memanggilku ‘Jong Dae-ssi’? Bahasanya formal sekali. Telingaku sedikit aneh mendengar nama asliku sendiri.

“Hei Jong Dae, aku di sini.” teriak seseoarang.

Aku menatap lurus ke depan. Sudah kutemukan suara yang memanggil namaku. Min Rae, dia duduk tepat di arah jarum jam duabelas di tempat aku berdiri. Kalau kalian lihat, dia sedang tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangannya yang mungil. Tanpa kontrol kakiku melangkah dengan sendirinya menuju tempat Min Rae. Dia menyambutku dengan senyumnya yang manis.


Author POV
“Hai Jong Dae-ssi, kau tadi mencariku ya?” ucap Min Rae
“Ah i-iya tadi aku mencarimu.” jawab Chen terbata
“Kau pasti tak menemukanku. Aku memang suka tempat ini. Di pojok dekat jendela, rasanya lebih nyaman. Tidak apa-apakan jika selama belajar dan latihan kita duduk di sini?” ucap Min Rae meminta kepastian.
“Tentu saja, maksudku terserah kau saja. Di manapun tempatnya aku tak masalah.” ucap Chen

Chen duduk berhadapan dengan Min Rae. Mereka sangat dekat, tak ada tembok yang mengahalangi mereka berdua. Bahkan mereka bisa saling menatap wajah satu sama lain. Terlihat Chen begitu gugup dan canggung.

“Jadi kita akan memulai latihannya. Oh ya Jong Dae-ssi_”
“Panggil aku Chen” ucap Chen memotong “Jangan terlalu formal denganku. Aku tak masalah kau panggil Chen.”
“Baiklah Chen…” Min Rae sedikit gugup “Kita akan mulai latihan. Sebelumnya aku ingin tahu, apa lagu kesukaanmu?”
“Lagu kesukaanku?” Chen terlihat berpikir “Tidak ada. Aku tak pernah mendengarkan lagu apa pun.” jawabnya jujur.
“Benar kah? Tapi mengapa kau tak punya lagu kesukaan?” Tanya Min Rae penasaran.
‘Karena lagu memiliki hubungan yang erat dengan bernyanyi. Dan kau harus tahu, bernyanyi adalah tindakan terbodoh dalam hidupku. Hal yang paling memalukan, sebuah aib yang tak boleh seorang pun tahu tentang hal ini.’ ucap Chen dalam hati.
“Chen kau baik-baik saja? Kenapa kau melamun?” ucap Min Rae mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Chen.
“A-aku tidak apa-apa. Maaf, aku hanya sedang memikirkan jawaban yang dapat kau mengerti tentang alasanku tak punya lagu kesukaan.”
“Kenapa kau sampai berpikir keras untuk menjawab pertanyaanku itu. Aku kan hanya bertanya, kalau kau memang tak punya lagu kesukaan itu tak masalah Chen.” ucap Min Rae sambil tersenyum. “Bagaiman jika kita saling memperkenalkan diri. Mungkin kita belum saling mengenal lebih banyak. Menurutku akan menjadi masalah jika kita tak saling mengenal dan memahami sifat satu sama lain.” ungkap pendapat Min Rae.
“Baiklah. Mulai saja dari dirimu dulu Min Rae.” jawab Chen.
“Namaku Yoo Min Rae, kau bisa memanggilku Min Rae. Umurku 17 tahun dan hobiku adalah bernyanyi. Sejak kecil aku sangat menyukai musik. Bahkan aku memiliki cita-cita ingin menjadi penyanyi. Aku juga bisa bermain piano, tapi mungkin tak sehebat diriki saat bernyanyi. Chen, kau tahu, bagiku musik sudah mendaging dalam tubuhku. Bernyanyi adalah duniaku. Tangga lagu, nada, dan lirik itu adalah teman-temanku sejak aku kecil. Aku merasa kalau aku bisa hidup karena semangat dan kecintaanku pada musik dan lagu. Bagaimana dengan dirimu? Apa yang kau suka?” ucap Min Rae diakhiri dengan pertanyaan
‘Aku hanya menyukai satu hal selama aku hidup. Itu adalah dirimu yang tak pernah bisa aku dapatkan. Bahkan mendapatkan dirimu adalah hal yang mustahil bagi seorang Kim Jong Dae yang payah ini. Aku melihat kita seperti air dan api, cahaya dan kegelapan, hati dan logika, dua hal yang memiliki perbedaan tetapi ingin dipertemukan. Itu jelas hal yang mustahil.’


Bersambung…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar