BEST LUCK part 2
Main Cast : Kim Jong Dae a.k.a Chen EXO
Yoo Min Rae (OC)
Genre : Life school,
romance
‘Ada apa dengan jantungku? kenapa rasanya sakit.
Tapi ini bukan sakit yang mebuatku ingin menangis, ini sakit yang mebuatku
selalu tersenyum, selalu terbakar api emosi yang entah dari mana asalnya. Apa
yang terjadi?’ ucap Chen membatin.
**
“Kim Songsaengnim datang. Cepat duduk di tempat
kalian masing-masing!” teriak salah seorang siswa.
Seisi kelas menjadi ribut, para siswa berlarian
menuju tempat masing-masing, begitu juga dengan Chen. Setelah beberapa saat ia
terdiam dengan pikirannya yang melayang ia kembali melangkah kan kakinya menuju
tempat duduknya.
“Untuk pelajaran seni musik mulai sekarang saya
akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok. Dalam satu kelompok terdiri
dari dua siswa, satu siswa bertugas menjadi ketua sekaligus pelatih untuk
partnernya yang memiliki kekurangan dalam pelajaran ini.” ucap Kim songsaengnim.
Seisi kelas menjadi ribut. Setiap siswa sibuk
berbisik-bisik dengan teman di sampingnya. Muncul banyak pertanyaan dari mulut
mereka, ‘dengan siapa mereka akan sekelompok’. Itu lah hal yang mereka
ributkan.
Saat seisi kelas ribut berbisik-bisik sampai
menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan, seorang namja hanya duduk
terdiam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namja itu adalah
Chen. Dia hanya bergumam tak jelas dan hanya dirinya saja yang dapat mendengar
gumamannya.
Chen POV
“Sial! Kenapa aku lupa kalau sekarang pelajaran
seni. Harusnya tadi aku pergi saja ke UKS agar bisa membolos pelajaran terkutuk
ini. Kau bodoh sekali Chen! Kesempatan untuk membolos sudah di depan mata, tapi
kau malah sok alim menolaknya. Rasakan akibatnya.”
Aku hanya bisa bergumam tentang kebodohan yang
sudah aku lakukan. Kepalaku terasa sakit lagi. Kenapa mereka sangat berisik?
Tidak bisakah mereka menutup mulut mereka yang tidak berguna itu. Aku membenci
keributan, teriakan dan semua hal yang menganggu indra pendengaranku.
Aku memang namja yang terkenal di sekolah ini.
Menurut banyak orang, aku adalah orang yang sempurna. Tapi aku hanyalah manusia
biasa yang pasti memiliki kekurangan. Aku membenci mereka yang selalu
mengatakan bahwa aku memiliki semuanya, mereka bilang kalau aku sempurna. Tapi
aku tak pernah membenarkan perkataan mereka. Karena sesempurnanya diriku, aku
memiliki kekurangan. Salah satunya, aku sangat buruk dalam pelajaran seni,
terutama dalam bernyanyi.
Sejak kecil aku dikenal sebagai murid yang tidak
bisa bernyayi. Bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar, aku mendapat nilai C dalam ujian
vokalku. Menyanyi adalah kegiatan yang tidak pernah aku sukai. Mungkin untuk
sebagian orang bernyanyi adalah hal yang mereka suka. Tapi untukku menyanyi
hanyalah untuk mempermalukan diri sendiri.
Author POV
“Diam semuanya! Tolong tenang!” ucap songsaengnim
dengan nada tinggi.
Seisi kelas yang tadinya sangat berisik dan ribut
dalam seketika menjadi sunyi. Tak satupun ada yang berani mengeluarkan suara.
“Bagus begini lebih baik. Jong Dae kau baik-baik
saja? Apa kau sakit?” tanya songsaengnim saat melihat Chen hanya diam dan
wajahnya sedikit pucat.
“Sa-saya baik-baik saja songsaenim. Saya tidak
sakit.” ucap Chen.
“Baiklah kalau begitu kita mulai membagi kelompok.
Akan saya sebutkan nama-namanya. Tolong diperhatikan.” …. “Kelompok terakhir
Kim Jong Dae dengan Yoo Min Rae. Kalian menjadi satu kelompok silakan bekerja
sama untuk mendapatkan hasil yang terbaik.”
“Untuk pertemuan selanjutnya kalian bekerja secara
kelompok dan kita akan menggunakan ruang musik saat melakuakn pembelajaran.
Kalian boleh pergi ke ruang musik dan bergabung dengan kelompok kalian. “
CHEN POV
Apa-apan ini? Apa Kim songsaenim tak salah
menyebutkan nama atau pendengaranku yang kurang baik. Ah tolong lah siapa pun
bangunkan aku dari mimpi yang terlalu indah ini. AKU SEKELOMPOK DENGAN YOO MIN
RAE. Rasanya aku ingin sekali berteriak. Kupikir ini bukanlah hari yang sial.
Entah mengapa aku selalu percaya bahwa setelah datangnya kesialan, sebuah
cahaya keberuntungan selalu mengikuti di belakang. Seperti sebuah bayangan.
Namun tidak gelap, justru membawa penerang dalam kehidupan.
Aku tak boleh terus-terusan melamun di kelas. Ini
kesempatanku untuk mendekati Min Rae. Ayo Chen kau adalah namja tangguh. Kau
tidak mungkin berubah menjadi namja cupu hanya gara-gara berhadapan dengan
gadis yang kau sukai.
Aku berjalan menyusuri lorong dan berhenti di
ruangan paling ujung—ruang musik. Aku yakin Min Rae sudah ada di dalam karna
kulihat tadi di kelas dia sudah tak ada, mungkin dia sedang menugguku. Aku
harus cepat, aku tidak boleh membuat seorang putri cantik menunggu ^^
“Di mana dia?” tanyaku pada diri sendiri.
Di sini sangat banyak orang. Aku tak bisa
menemukannya. Ya ampun sial, kenapa tadi aku harus melamun dulu di kelas?
Mungkin kalau aku lebih cepat sedikit aku sudah menghabiskan waktu berdua
dengan calon gadisku itu *Chen kebanyakan ngarep -_-‘
“Jong Dae-ssi!”
Siapa yang memanggil namaku? Aku menengok ke kanan
dan ke kiri, tapi aku tak menemukan siapa pun. Kenapa orang itu memanggilku
‘Jong Dae-ssi’? Bahasanya formal sekali. Telingaku sedikit aneh mendengar nama
asliku sendiri.
“Hei Jong Dae, aku di sini.” teriak seseoarang.
Aku menatap lurus ke depan. Sudah kutemukan suara
yang memanggil namaku. Min Rae, dia duduk tepat di arah jarum jam duabelas di
tempat aku berdiri. Kalau kalian lihat, dia sedang tersenyum kepadaku sambil
melambaikan tangannya yang mungil. Tanpa kontrol kakiku melangkah dengan
sendirinya menuju tempat Min Rae. Dia menyambutku dengan senyumnya yang manis.
Author POV
“Hai Jong Dae-ssi, kau tadi mencariku ya?” ucap Min
Rae
“Ah i-iya tadi aku mencarimu.” jawab Chen terbata
“Kau pasti tak menemukanku. Aku memang suka tempat
ini. Di pojok dekat jendela, rasanya lebih nyaman. Tidak apa-apakan jika selama
belajar dan latihan kita duduk di sini?” ucap Min Rae meminta kepastian.
“Tentu saja, maksudku terserah kau saja. Di manapun
tempatnya aku tak masalah.” ucap Chen
Chen duduk berhadapan dengan Min Rae. Mereka sangat
dekat, tak ada tembok yang mengahalangi mereka berdua. Bahkan mereka bisa
saling menatap wajah satu sama lain. Terlihat Chen begitu gugup dan canggung.
“Jadi kita akan memulai latihannya. Oh ya Jong
Dae-ssi_”
“Panggil aku Chen” ucap Chen memotong “Jangan
terlalu formal denganku. Aku tak masalah kau panggil Chen.”
“Baiklah Chen…” Min Rae sedikit gugup “Kita akan
mulai latihan. Sebelumnya aku ingin tahu, apa lagu kesukaanmu?”
“Lagu kesukaanku?” Chen terlihat berpikir “Tidak
ada. Aku tak pernah mendengarkan lagu apa pun.” jawabnya jujur.
“Benar kah? Tapi mengapa kau tak punya lagu
kesukaan?” Tanya Min Rae penasaran.
‘Karena lagu memiliki hubungan yang erat dengan
bernyanyi. Dan kau harus tahu, bernyanyi adalah tindakan terbodoh dalam hidupku.
Hal yang paling memalukan, sebuah aib yang tak boleh seorang pun tahu tentang
hal ini.’ ucap Chen dalam hati.
“Chen kau baik-baik saja? Kenapa kau melamun?” ucap
Min Rae mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Chen.
“A-aku tidak apa-apa. Maaf, aku hanya sedang
memikirkan jawaban yang dapat kau mengerti tentang alasanku tak punya lagu
kesukaan.”
“Kenapa kau sampai berpikir keras untuk menjawab
pertanyaanku itu. Aku kan hanya bertanya, kalau kau memang tak punya lagu
kesukaan itu tak masalah Chen.” ucap Min Rae sambil tersenyum. “Bagaiman jika
kita saling memperkenalkan diri. Mungkin kita belum saling mengenal lebih
banyak. Menurutku akan menjadi masalah jika kita tak saling mengenal dan
memahami sifat satu sama lain.” ungkap pendapat Min Rae.
“Baiklah. Mulai saja dari dirimu dulu Min Rae.”
jawab Chen.
“Namaku Yoo Min Rae, kau bisa memanggilku Min Rae.
Umurku 17 tahun dan hobiku adalah bernyanyi. Sejak kecil aku sangat menyukai musik.
Bahkan aku memiliki cita-cita ingin menjadi penyanyi. Aku juga bisa bermain
piano, tapi mungkin tak sehebat diriki saat bernyanyi. Chen, kau tahu, bagiku
musik sudah mendaging dalam tubuhku. Bernyanyi adalah duniaku. Tangga lagu,
nada, dan lirik itu adalah teman-temanku sejak aku kecil. Aku merasa kalau aku
bisa hidup karena semangat dan kecintaanku pada musik dan lagu. Bagaimana
dengan dirimu? Apa yang kau suka?” ucap Min Rae diakhiri dengan pertanyaan
‘Aku hanya menyukai satu hal selama aku hidup. Itu
adalah dirimu yang tak pernah bisa aku dapatkan. Bahkan mendapatkan dirimu
adalah hal yang mustahil bagi seorang Kim Jong Dae yang payah ini. Aku melihat
kita seperti air dan api, cahaya dan kegelapan, hati dan logika, dua hal yang
memiliki perbedaan tetapi ingin dipertemukan. Itu jelas hal yang mustahil.’
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar